Kau di lahirkan
Akupun dilahirkan
Kita dipertemukan
Kau adlah istriku yang tercinta
Kiranya sudah tersurat
Sudah kehendak takdir
Kita berpisah
Selamat jalan istriku yang tercinta
Semoga kepergianmu diterima disisi Allah
Maafkan semua kesalahanku, segala dosaku
Disaat kepergianmu aku tiada disampingmu
Dukaku sangat mendalam, semenjak kepergianmu
Kini tinggallah kenangan duka yang terpahat di hatiku, yang tiada kulupakan seumur hidupku
Kini tinggallah seonggok tanah tertancap sepasang batu nisan tertulis namamu di atas pusaramu
Entah esok atau kapan aku akan menyusulmu
Selamat jalan istriku yang tercinta
Bapak
Ini adalah surat yang tak sengaja ku temukan di kamar bapak cukup lama selang perginya ibuku…
Suatu hal yang sungguh tak pernah aku duga sebelumnya, bahwa seorang bapak yang selama ini dimataku tak pernah perduli dengan istri dan anaknya…
Dan bahkan sampai detik inipun, setelah kami hidup hanya berdua, hubungan kami masih jauh dari dekat, dan entah sampai kapan dinding yang memisahkan kami akan terus kokoh berdiri… tapi setelah membaca surat ini, ada sesuatu yang mengetuk hatiku yang paling dalam, bahwa bagaimanapun, dia juga manusia yang punya hati, punya rasa, juga punya cinta terhadap istri dan anak-anaknya..
Tapi satu hal yang aku sangat sesalkan, kenapa semuanya ini ada setelah kepergian ibuk…? Kenapa sebelum ibuk pergi meninggalkan aku, kita?
Kemana sosok bapak atau suami yang kami semua butuhkan…?
Entahlah… semua sudah tersurat, ya seperti apa yang bapak katakan dalam suratnya, semua sudah tersurat… aku atau siapapun tak akan bisa merubah apa yang sudah lewat…
Ya Allah… ampuni segala dosa ibu dan bapakku ya Allah… Engkaulah maha pengampun lagi maha pemurah…
Kota bersemi 01 mei ‘10

Tidak ada komentar:
Posting Komentar